Masjid Agung Al Istiqomah Saksi Tsunami Pangandaran


Masjid Agung Al Istiqomah Saksi Tsunami Pangandaran

PANGANDARAN - Di jantung kota pesisir Pangandaran, Masjid Besar Al Istiqomah berdiri seperti penjaga zaman. Granitnya bukan sekadar batu, ia adalah memori yang dipadatkan, doa yang membeku dalam arsitektur. Orang datang untuk salat, beristirahat, atau sekadar menunggu azan. 

 
Tahun 2006, ketika tsunami menyapu Pangandaran, air asin menjelma kabar duka yang berlari lebih cepat dari suara sirene. Warga berhamburan meninggalkan pesisir, menenteng anak, menggenggam harap yang tersisa. Masjid yang berdiri sekitar 1,8 kilometer dari bibir pantai itu mendadak menjadi mercusuar keselamatan. Halamannya sesak oleh langkah tergesa, doa yang terpotong, dan tatapan yang menggantung antara hidup dan kehilangan.
 
“Masjid ini menjadi saksi bisu ketegangan dan ketakutan warga. Meski jaraknya sekitar 1,8 kilometer dari pantai, tempat ini terbukti aman dari jangkauan gelombang tsunami sehingga menjadi area penyelamatan yang luas,” kenang Kiai Majid Murdiansah.
 
Lantai dua bangunan menjadi ruang perlindungan darurat. Di bagian belakang, yang kini menjadi area wudu, air pernah mengalir bukan hanya untuk bersuci, tetapi juga untuk memandikan jenazah. Beberapa korban bahkan sempat disemayamkan dalam peti kemas milik Susi Pudjiastuti sebelum dimakamkan. Masjid ini, dalam satu tarikan napas sejarah, berubah dari rumah ibadah menjadi rumah duka, lalu menjelma lagi sebagai rumah harapan.
 
Namun kisahnya tak bermula pada bencana. Ia berakar jauh ke tahun 1974, ketika tanah seluas lebih dari 5.000 meter persegi diwakafkan sepenuhnya untuk kepentingan umat oleh keluarga orang tua Susi Pudjiastuti. H. Ahmad Karlan dan Hj. Suwuh Lasminah meletakkan fondasi bukan hanya dari semen dan batu, tetapi dari niat yang melampaui usia mereka sendiri. Pembangunan masjid kala itu berada di bawah naungan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, dan sejak itu ia tumbuh bersama denyut kota.
 
Berdiri berdampingan dengan Bundaran Marlin Pangandaran, masjid ini menjadi penanda tak tertulis bahwa seseorang telah tiba di Pangandaran. Ia adalah wajah pertama yang menyambut wisatawan, sekaligus pelukan terakhir bagi mereka yang hendak pulang. Letaknya di jalur utama membuatnya menjadi titik transit, tempat orang melepas lelah setelah perjalanan panjang, atau menenangkan diri sebelum kembali menantang jalanan.
 
Kini, setiap Ramadan, masjid itu bergetar oleh lantunan tadarus. Anak-anak duduk bersaf, remaja menghafal ayat, para jamaah menundukkan kepala dalam tafakur. Di bawah asuhan Ustaz Al Imron Rosyadi, Al Istiqomah bukan sekadar bangunan, ia adalah “candradimuka” pariwisata Pangandaran kawah tempat karakter ditempa, tempat iman dan identitas kota saling memantulkan cahaya.
 





Pernik Lainnya
Mau booking hotel, penginapan, travel dan tour? call 0265-639380 atau klik disini