Mengenal Penyakit Jantung Bawaan, Dokter RSUD Pandega Pangandaran Jelaskan Gejala hingga Penanganannya
Oleh Amin Pnd | Jum'at, 06 Februari 2026 10:00 WIB | 19 Views
PANGANDARAN - Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan struktur jantung yang sudah terjadi sejak lahir dan bukan disebabkan pola asuh setelah bayi lahir maupun penyakit menular. Hal ini disampaikan dr. Nalagafiar Puratmaja, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RSUD Pandega Pangandaran, dalam edukasi kesehatan kepada masyarakat, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, kelainan tersebut muncul ketika jantung bayi berkembang di dalam kandungan. Sebagian besar penyebabnya tidak diketahui secara pasti, namun sejumlah faktor risiko dapat berperan, seperti faktor genetik atau riwayat keluarga, infeksi selama kehamilan, penyakit tertentu seperti diabetes, hingga konsumsi obat-obatan tertentu saat masa kehamilan.
Gejala penyakit jantung bawaan dapat berbeda sesuai usia. Pada bayi, tanda yang sering muncul antara lain napas cepat atau sesak, kondisi kulit kebiruan saat lahir, serta berat badan sulit meningkat. Sementara pada anak hingga dewasa, gejala dapat berupa mudah lelah saat beraktivitas, sesak napas, jantung berdebar, pusing, hingga mudah pingsan. Selain itu, penderita juga dapat mengalami infeksi paru berulang serta pertumbuhan yang lebih lambat.
Penyakit ini dapat dideteksi melalui berbagai pemeriksaan medis, mulai dari USG selama kehamilan, pemeriksaan dokter saat bayi lahir, hingga pemeriksaan lanjutan seperti foto rontgen dada, EKG, ekokardiografi, atau kateterisasi jantung. Deteksi dini dinilai sangat penting untuk menentukan penanganan yang tepat.
Penanganan penyakit jantung bawaan bergantung pada jenis dan tingkat keparahan kondisi. Langkah yang dilakukan dapat berupa observasi rutin pada kasus ringan, pemberian obat untuk mengurangi gejala, tindakan kateterisasi jantung, hingga operasi jika diperlukan.
Meski demikian, dr. Nalagafiar menegaskan banyak anak dengan penyakit jantung bawaan tetap dapat bersekolah, beraktivitas, dan berprestasi dengan pengawasan medis yang tepat. Ia mengingatkan orang tua bahwa kondisi ini bukan akhir dari segalanya, karena kontrol rutin ke dokter, dukungan keluarga, serta kepatuhan terhadap terapi berperan besar dalam menjaga kualitas hidup anak dan membantu mereka tumbuh secara optimal.