Musim Kemarau Udang Melimpah tapi Harga Merosot, HNSI Pangandaran Cari Solusi Stabilkan Harga
Oleh Amin Pnd | Senin, 13 Juli 2026 17:31 WIB | 23 Views
PANGANDARAN, mypangandaran.com – Memasuki musim kemarau, riuh aktivitas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pangandaran terasa berbeda dari biasanya. Fenomena alam ini membawa berkah tersendiri bagi para nelayan dengan keluarnya berbagai jenis biota laut, terutama udang dogol berut yang kini melimpah ruah memenuhi lantai pelelangan.
Namun, di balik senyum sumringah atas hasil tangkapan yang melimpah, terselip kecemasan klasik: anjloknya harga akibat hukum pasar. Menanggapi situasi krusial ini, Ketua KUD Pangandaran, Jeje Wiradinata, turun langsung memantau kondisi di lapangan guna memastikan kesejahteraan nelayan tetap terjaga.
Dalam unggahannya di media sosial, Ketua HNSI Pangandaran Jeje Wiradinata tampak berdiri di antara tumpukan hasil laut di TPI Pangandaran. Kehadirannya di waktu yang tidak biasa ini menjadi bukti keseriusannya dalam mengawal roda ekonomi para nelayan lokal. Berdasarkan pantauannya, pasokan udang jenis dogol berut mengalami peningkatan volume yang sangat signifikan sejak dimulainya musim kemarau.
"Sekarang kan mulai musim kemarau, ikan biasanya pada keluar. Dan sekarang banyak udang keluar. Sekarang udang dogol belut ini banyak sekali," ujar Jeje saat memantau langsung situasi pelelangan, Senin (13/7/2026).
Melimpahnya pasokan ini sayangnya langsung berdampak pada grafik harga di tingkat pelelangan. Jeje mencatat penurunan harga yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. Dari harga normal yang sempat menyentuh angka Rp100.000 per kilogram, berturut-turut menyusut ke Rp90.000, hingga kini merosot ke tingkat Rp78.000 per kilogram.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan udang komoditas ekspor murni seperti jenis tiger (udang windu). Menurut Jeje, udang tiger relatif memiliki harga yang stabil dan tetap bagus di pasaran berapapun volume tangkapannya. Sementara untuk udang dogol berut, pasarnya bersifat campuran sebagian diserap pasar ekspor dan sebagian lagi harus bersaing di pasar domestik sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi hukum ekonomi saat pasokan melambung.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kelembagaan, Jeje menegaskan tidak akan tinggal diam melihat tren penurunan harga yang bisa merugikan para nelayan. Pihaknya kini tengah merumuskan langkah-langkah taktis dan berniat segera menggelar dialog bersama perwakilan nelayan serta para bakul (tengkulak/pembeli besar).
"Tentu sebagai orang yang bertanggung jawab, saya hari ini monitoring dan besok akan mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu. Sehingga harga dogol ini juga bisa stabil, jangan terus turun," tegasnya berkomitmen.