23 Tahun Tinggal di Rumah Reyot, Maspuah Kini Bisa Bernapas Lega Berkat Program TMMD ke-130
Oleh Amin Pnd | Rabu, 04 November 2026 19:27 WIB | 20 Views
PANGANDARAN – Rasa takut yang selama 23 tahun menghantui Maspuah (59), seorang janda warga Dusun Limusnunggal, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, perlahan berganti menjadi kebahagiaan. Rumah panggung berdinding bilik bambu yang selama ini nyaris roboh dan kerap bocor saat hujan, kini mulai dibangun kembali menjadi rumah permanen melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130.
Selama lebih dari dua dekade, Maspuah harus bertahan hidup di rumah semi permanen dengan konstruksi kayu yang kondisinya semakin lapuk. Atap rumah kerap bocor ketika hujan turun, sementara sejumlah bagian bangunan mulai rapuh dan membahayakan keselamatannya.
Kondisi tersebut membuat Maspuah selalu diliputi kekhawatiran, terutama saat hujan deras, angin kencang hingga terjadi gempa bumi.
"Kalau hujan takut kehujanan, takut ada gempa dan angin kencang. Dulu sempat ada kayu yang roboh, saya hanya bisa pasrah," ungkap Maspuah, Rabu (4/11/2026).
Ia menceritakan, rumah panggung tersebut awalnya dibangun secara gotong royong oleh masyarakat setempat setelah suaminya meninggal dunia. Warga saat itu berinisiatif membantu menyediakan tempat tinggal bagi dirinya.
"Dulu punya rumah juga dibikinkan masyarakat di sini. Setelah ditinggal suami, langsung dibikinkan rumah panggung dari kayu dan bilik bambu," jelasnya.
Maspuah mengaku, selama menempati rumah tersebut, dirinya bersama anak-anak beberapa kali berupaya memperbaiki bagian atap yang bocor. Namun, seiring bertambahnya usia bangunan, kerusakan justru semakin meluas.
Maspuah memiliki lima anak yang kini seluruhnya sudah berkeluarga. Dalam kesehariannya, ia lebih banyak mengurus anak dan kelima cucunya.
Kini, harapan untuk memiliki tempat tinggal yang lebih aman mulai terwujud. Rumah panggung yang sebelumnya dalam kondisi memprihatinkan dibongkar dan dibangun kembali menjadi rumah permanen sederhana berukuran 5 x 6 meter.
Proses pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan personel TNI, Polri, masyarakat serta petugas terkait. Bangunan mulai menggunakan pasangan bata hebel, dilengkapi pengecoran pada bagian sudut dan struktur bangunan. Sejumlah balok kayu juga telah disiapkan untuk konstruksi atap.
Pengerjaan rumah tersebut telah berlangsung hampir dua pekan. Maspuah pun mengaku tidak sabar menunggu pembangunan selesai agar bisa segera menempati rumah barunya.
"Alhamdulillah, senang sekali. Sekarang rumah saya dibangun permanen. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah dan TNI yang sudah membantu membangun rumah saya," ungkapnya.
Ia berharap rumah tersebut dapat memberikan rasa aman dan manfaat bagi kehidupannya ke depan.
"Semoga bermanfaat. Semoga semuanya sehat selalu, sukses dan terus maju," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Limusnunggal, Ragil Herwanda Kumbara, mengatakan terdapat dua rumah warga di wilayahnya yang mendapatkan bantuan pembangunan melalui program TMMD ke-130, yakni rumah milik Maspuah dan Abdul Sobar.
Menurut Ragil, kedua warga tersebut memang sangat membutuhkan bantuan karena keterbatasan ekonomi dan kondisi tempat tinggal yang sudah tidak layak huni.
"Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah dan bapak-bapak TNI. Dua warga ini memang sangat membutuhkan bantuan," paparnya.
Ia menambahkan, kondisi rumah Maspuah bahkan sempat semakin membahayakan setelah tertimpa pohon tumbang beberapa minggu sebelumnya.
Ragil menjelaskan, pengajuan bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu) untuk kedua warga tersebut sebenarnya telah dilakukan sejak 2024. Namun, bantuan baru dapat direalisasikan pada 2026 melalui program TMMD.
"Alhamdulillah, tahun 2026 ini akhirnya bisa terealisasi melalui program TMMD. Secara ekonomi mereka memang sangat minim dan membutuhkan uluran tangan," ungkapnya.
Di sisi lain, Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) TMMD, Brigjen TNI R. Benny Arifin, mengatakan kunjungannya bersama rombongan bertujuan memantau pelaksanaan program TMMD ke-130 di Kabupaten Pangandaran.
Monitoring tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh program berjalan sesuai rencana, mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
"Kita cek bagaimana program TMMD ke-130 di Kabupaten Pangandaran, mulai persiapan sampai pelaksanaan. Bagaimana program yang tinggal delapan hari ini bisa terlaksana dan tercapai," tegasnya.