Gerombolan Babi Hutan Porak-porandakan Jagung Siap Panen di Padaherang
Oleh Amin Pnd | Sabtu, 17 Januari 2026 13:00 WIB | 31 Views
PADAHERANG - Gerombolan babi hutan kembali menjadi momok bagi petani di Kabupaten Pangandaran. Kali ini, tanaman jagung milik petani di Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, rusak parah setelah diserang kawanan babi hutan hanya beberapa pekan menjelang masa panen.
Serangan tersebut terjadi dalam tiga hari terakhir di lahan perkebunan yang dikelola petani setempat. Padahal, tanaman jagung tersebut sudah berusia lebih dari dua bulan dan tinggal menunggu waktu panen sekitar satu bulan ke depan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Sabtu (17/1/2026) pagi, tanaman jagung di lahan seluas kurang lebih 700 bata tampak porak-poranda. Batang jagung tumbang, sementara buah jagung berserakan di permukaan tanah akibat serangan babi hutan.
Tercatat, sedikitnya ada empat titik lebih di lahan tersebut yang mengalami kerusakan cukup parah. Hampir seluruh tanaman di titik-titik itu tidak bisa diselamatkan.
Perwakilan petani Desa Sindangwangi, Purkon (33), mengatakan serangan babi hutan tersebut sudah terjadi selama dua hingga tiga hari terakhir. Kawanan babi hutan disebut kerap datang pada malam hari.
“Kita sudah melakukan antisipasi, tapi babinya datang malam hari. Lokasi kebun juga jauh dari pemukiman, jadi cukup sulit untuk dikontrol,” ujar Purkon saat ditemui di lokasi kebun jagung.
Ia menjelaskan, serangan babi hutan terjadi di lebih dari empat titik dari total lahan yang dikelolanya. Padahal, kondisi tanaman jagung sudah cukup baik dan siap memasuki masa panen.
“Jagung ini sudah dua bulan lebih, tinggal nunggu panen sebulan lagi. Tapi kita malah dapat musibah diserang kawanan babi hutan yang sering datang malam hari,” katanya.
Purkon menambahkan, berbagai upaya pencegahan sebenarnya sudah dilakukan, termasuk penggunaan obat-obatan dan bahan penangkal seperti kamper yang ditaburkan di sekitar lahan.
“Sudah pakai kamper, tapi tetap saja babi hutan masuk ke kebun. Kerugian diperkirakan mencapai Rp4 juta sampai Rp5 juta karena banyak tanaman jagung yang rusak,” ungkapnya.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, ke depan Purkon bersama petani muda lainnya berencana berdiskusi dengan para petani senior guna mencari solusi yang lebih efektif.
“Mudah-mudahan nanti ada solusi terbaik supaya serangan babi hutan ini bisa dicegah,” pungkasnya.