Ngobatan RSUD Pandega Pangandaran: Pentingnya Pengaturan Pola Makan bagi Pasien Hemodialisa
Oleh Amin Pnd | Rabu, 13 Mei 2026 15:00 WIB | 23 Views
PANGANDARAN - Suasana ruang Hemodialisa di RSUD Pandega Pangandaran tampak berbeda pada Kamis (13/05/2026). Sejumlah pasien dan keluarga mengikuti kegiatan NGOBATAN atau Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan yang kali ini mengangkat tema “Pengaturan Pola Makan pada Pasien Gagal Ginjal dengan Terapi Hemodialisa”.
Materi disampaikan langsung oleh nutrisionis RSUD Pandega Pangandaran, Lentri Fitri Mulyani, yang memberikan edukasi mengenai pentingnya pola makan bagi pasien gagal ginjal kronis yang menjalani terapi cuci darah atau hemodialisa.
Dalam pemaparannya, Lentri menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronis merupakan kondisi ketika fungsi ginjal mengalami penurunan sehingga tidak mampu bekerja optimal dalam menyaring racun dan sisa metabolisme dari tubuh. Akibatnya, pasien membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti transplantasi ginjal maupun dialisis.
“Pada pasien gagal ginjal, fungsi ginjal sudah menurun sehingga racun dari makanan dan minuman tidak dapat dibuang secara maksimal. Karena itu dibutuhkan terapi hemodialisa menggunakan mesin untuk membantu proses penyaringan darah,” jelasnya.
Ia menerangkan, terapi hemodialisa tidak hanya membantu membersihkan darah, tetapi juga dapat menyebabkan hilangnya sejumlah zat gizi penting dalam tubuh. Kondisi tersebut berisiko menimbulkan malnutrisi energi protein yang dapat menurunkan kualitas hidup pasien apabila tidak ditangani dengan baik.
Karena itu, pengaturan pola makan menjadi bagian penting dalam proses pengobatan pasien gagal ginjal. Menurut Lentri, pasien hemodialisa justru dianjurkan meningkatkan konsumsi protein, terutama saat menjalani terapi cuci darah.
“Protein diperlukan untuk mengganti asam amino yang ikut terbuang selama proses hemodialisa,” ujarnya.
Sumber protein yang dianjurkan di antaranya berasal dari protein hewani seperti ayam tanpa kulit, telur, ikan, dan susu. Sementara protein nabati seperti tahu dan tempe tetap diperbolehkan dalam jumlah terbatas.
Selain protein, pasien juga diminta membatasi konsumsi garam, kalium, dan cairan. Makanan tinggi garam seperti makanan kaleng, makanan instan, camilan kemasan, hingga makanan terlalu gurih disarankan untuk dihindari karena dapat memicu hipertensi dan penumpukan cairan dalam tubuh.
Sementara makanan tinggi kalium seperti pisang, alpukat, kentang, ubi, hingga air kelapa muda juga perlu dibatasi. Lentri menyebut, kadar kalium yang terlalu tinggi dapat membahayakan kondisi pasien gagal ginjal.
“Ada cara sederhana untuk mengurangi kadar kalium pada makanan, misalnya dengan memotong kecil bahan makanan lalu merendamnya menggunakan air panas sebelum dimasak,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diberikan edukasi mengenai pembatasan cairan harian. Pasien dianjurkan menggunakan gelas kecil, minum sedikit demi sedikit menggunakan sedotan, serta mengurangi makanan berkuah agar rasa haus dapat lebih terkontrol.
Tak hanya itu, Lentri juga mengingatkan pentingnya memperhatikan cara pengolahan makanan. Pasien disarankan mengurangi makanan yang digoreng berulang kali dan lebih memilih makanan yang dikukus atau direbus.
“Kalau ingin makan gorengan masih boleh sesekali, tetapi sebaiknya dibuat sendiri di rumah dan minyaknya tidak dipakai berulang kali,” tuturnya.
Melalui kegiatan NGOBATAN ini, RSUD Pandega Pangandaran berharap pasien gagal ginjal dan keluarga dapat memahami pentingnya pola makan yang tepat selama menjalani terapi hemodialisa. Edukasi tersebut diharapkan mampu membantu pasien menjaga kondisi tubuh, mencegah komplikasi, sekaligus meningkatkan kualitas hidup mereka sehari-hari.