Digelar 1 Muharam, Hajat Laut Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Evaluasi Kehidupan Nelayan


Digelar 1 Muharam, Hajat Laut Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Evaluasi Kehidupan Nelayan

PANGANDARAN - Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran, Jeje Wiradinata, menegaskan bahwa tradisi Hajat Laut yang digelar setiap 1 Muharram tidak hanya menjadi acara budaya tahunan. Kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sebagai momen untuk melihat kondisi kehidupan dan kesejahteraan nelayan di Pangandaran.

 
Jeje yang juga merupakan pengelola KUD Minasari Pangandaran mengatakan, Hajat Laut memiliki makna penting bagi masyarakat nelayan. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan, semangat untuk berubah menjadi lebih baik, sekaligus upaya menjaga budaya khas Pangandaran agar tetap lestari.
 
Menurut Jeje, para nelayan patut bersyukur karena hingga saat ini masih diberikan keselamatan saat melaut. Meski setiap hari menghadapi ombak dan cuaca yang tidak menentu, para nelayan tetap bisa kembali ke darat dengan selamat dan membawa hasil tangkapan ikan.
 
“Kita tidak pernah menanam ikan atau memberi makan udang di laut, tetapi tetap mendapatkan hasil dari laut. Semua itu karena kuasa Allah sehingga nelayan bisa pulang dengan selamat. Karena itu, kami mengadakan istigasah dan doa bersama,” ujar Jeje beberapa waktu lalu.
 
Selain sebagai acara syukuran, Hajat Laut juga menjadi waktu untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi nelayan. Berbagai hal akan dibahas, mulai dari hasil tangkapan ikan, pendapatan harian nelayan, hingga kondisi tabungan mereka selama setahun terakhir.
 
Jeje menjelaskan, jika hasil tangkapan ikan mulai berkurang atau pendapatan nelayan menurun, maka persoalan tersebut akan dibahas bersama pemerintah daerah dan pihak terkait. Tujuannya agar kondisi laut dan ekosistem perikanan tetap terjaga untuk jangka panjang.
 
Dalam bidang budaya, HNSI Pangandaran juga ingin menghidupkan kembali kesenian tradisional Ronggeng Gunung. Jeje menilai kesenian asli daerah harus kembali diperkenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
 
Ia mengatakan, Ronggeng Gunung merupakan bagian dari sejarah dan legenda yang sudah lama dikenal di Pangandaran. Kesenian tersebut berasal dari kisah Dewi Samboja atau Dewi Rengganis yang menjadi simbol budaya masyarakat setempat.
 
Selain pertunjukan seni tradisional, acara Hajat Laut juga akan diisi dengan berbagai kegiatan khas nelayan. Di antaranya lomba renang laut dan balap perahu yang sudah menjadi tradisi masyarakat pesisir sejak dahulu.
 
Jeje menilai perayaan Hajat Laut juga dapat memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata Pangandaran. Event budaya ini diharapkan mampu menarik wisatawan untuk datang berkunjung selain pada musim libur besar seperti Tahun Baru dan Idul Fitri.
 
Menurutnya, terselenggaranya acara tersebut tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak, mulai dari nelayan, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga masyarakat sekitar yang ikut mendukung kegiatan.
 
Dalam kesempatan itu, Jeje turut menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang membantu mendukung kegiatan Hajat Laut, termasuk mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.
 
“Terima kasih kepada Ibu Susi Pudjiastuti yang sudah menyiapkan hadiah untuk kegiatan ini dengan total hampir Rp150 juta,” katanya.
 
Di akhir keterangannya, Jeje menyampaikan pesan tentang pentingnya keberadaan nelayan bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya, laut, nelayan, dan hasil ikan merupakan bagian yang saling berkaitan dan penting bagi kebutuhan pangan masyarakat.
 
“Kalau ada laut pasti ada nelayan, dan kalau ada nelayan pasti ada ikan. Ikan juga menjadi sumber gizi penting bagi kehidupan masyarakat. Pangandaran memiliki alam yang hebat dan oleh-oleh yang khas,” ucapnya.





Wisata Lainnya
Mau booking hotel, penginapan, travel dan tour? call 0265-639380 atau klik disini