Unjuk Kabisa Pasanggiri Mojang Jajaka Pangandaran 2026 Digelar, Siap Lahirkan Duta Wisata Berdaya Saing
Oleh Amin Pnd | Jum'at, 24 April 2026 09:32 WIB | 101 Views
PANGANDARAN - Ajang Unjuk Kabisa Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Pangandaran 2026 resmi digelar di Hotel Grand Palma, Pantai Barat Pangandaran, Jumat (24/4/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian seleksi menuju malam grand final yang dijadwalkan berlangsung pada 25 April 2026.
Acara tersebut dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, serta jajaran paguyuban Mojang Jajaka.
Ketua Paguyuban Mojang Jajaka Kabupaten Pangandaran, Panji Arum, menyampaikan bahwa ajang ini kembali diselenggarakan setelah sempat vakum pada 2025.
“Pada 2026 ini kegiatan kembali dilaksanakan karena akan ada pemilihan Mojang Jajaka tingkat Jawa Barat, sehingga Pangandaran perlu mempersiapkan perwakilan terbaik,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pasanggiri Mojang Jajaka tidak sekadar menampilkan penampilan fisik, tetapi juga menjadi wadah untuk mengasah kapasitas generasi muda dalam mempromosikan budaya dan potensi daerah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, Dadan Sugista, menilai ajang ini sebagai panggung pembuktian bagi para peserta.
“Ini bukan hanya soal elok paras, tetapi juga luhur budi pekerti, kecintaan terhadap tanah air, serta kemampuan dalam mengenalkan dan mempromosikan potensi daerah,” ungkapnya.
Menurutnya, Pangandaran memiliki kekayaan wisata yang beragam, tidak hanya pantai, tetapi juga potensi wisata sungai, kekayaan alam, hingga kuliner khas seperti pindang gunung yang menjadi identitas daerah.
Ia menambahkan, Mojang Jajaka diharapkan mampu menjadi corong promosi yang tidak hanya memperkenalkan, tetapi juga “menjual” potensi pariwisata Pangandaran kepada khalayak luas.
“Peran mereka ke depan adalah menjadi duta wisata dan seni, sekaligus ambassador yang mampu meningkatkan daya tarik kunjungan wisatawan,” katanya.
Dalam ajang ini, para peserta juga dibekali sejumlah nilai penting, di antaranya kemampuan melestarikan budaya (ngamumule budaya), kebanggaan menggunakan bahasa Sunda, serta pemahaman terhadap kearifan lokal masyarakat Pangandaran. Selain itu, peserta dituntut memiliki kapasitas dalam promosi wisata serta menjadi teladan di tengah masyarakat.