Dokter RSUD Pandega Pangandaran Ungkap Gejala Serangan Jantung, Jangan Anggap Sekadar Masuk Angin
Oleh Redaksi | Minggu, 18 Oktober 2026 21:41 WIB | 10 Views
PANGANDARAN – Penyakit jantung koroner menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai karena dapat memicu serangan jantung hingga berujung pada kematian. Mengenali gejala sejak dini dan mendapatkan penanganan medis secepat mungkin menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih serius.
Hal tersebut dibahas dalam kegiatan NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan) bertema “Penyakit Jantung Koroner: Kenali Sebelum Terlambat” yang dilaksanakan pada Kamis (1/10/2026). Materi disampaikan oleh dr. Nalagafiar Puratmaja, BMedSc (Hons), Sp.JP, FIHA, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RSUD Pandega Pangandaran.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa serangan jantung kerap disalahartikan sebagai masuk angin atau angin duduk. Padahal, kondisi tersebut dapat menandakan adanya gangguan serius pada aliran darah menuju otot jantung.
Salah satu gejala yang perlu diwaspadai adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, terutama di bagian tengah atau kiri. Rasa sakitnya dapat berupa tekanan, himpitan, atau sensasi seperti tertindih benda berat.
Nyeri juga dapat menjalar ke lengan, bahu, rahang, hingga punggung. Gejala lain yang bisa menyertai di antaranya keringat dingin, mual, dan muntah.
Jika mengalami gejala yang mengarah pada serangan jantung, masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis melalui instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit terdekat. Penanganan tidak boleh ditunda karena penyumbatan pembuluh darah koroner dapat menyebabkan otot jantung kekurangan oksigen dan mengalami kerusakan.
Semakin lama aliran darah terganggu, semakin besar risiko kerusakan otot jantung. Kondisi ini dapat menurunkan kemampuan jantung memompa darah dan memicu gagal jantung, yang ditandai dengan sesak napas, mudah lelah, hingga pembengkakan pada kaki.
Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah yang memasok darah ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan, umumnya akibat penumpukan plak. Kondisi tersebut menghambat pasokan darah dan oksigen yang dibutuhkan jantung untuk bekerja secara optimal.
Untuk memastikan diagnosis dan menentukan penanganan, dokter dapat melakukan pemeriksaan, seperti elektrokardiogram (EKG) dan pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien. Pada kasus tertentu, pasien memerlukan angiografi koroner untuk melihat lokasi dan tingkat penyumbatan pembuluh darah.
Penanganan dapat dilakukan dengan obat-obatan maupun tindakan medis, seperti pemasangan ring jantung atau stent untuk membantu membuka pembuluh darah yang menyempit. Sementara itu, operasi bypass dapat menjadi pilihan bagi pasien dengan kondisi penyumbatan tertentu yang memerlukan pembuatan jalur aliran darah alternatif.
Dokter juga mengingatkan bahwa penyakit jantung koroner tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Faktor risiko dan kebiasaan hidup yang tidak sehat dapat membuat penyakit ini muncul pada usia lebih muda.
Karena itu, masyarakat perlu lebih memperhatikan kesehatan jantung, mengenali gejala yang muncul, serta tidak menyepelekan nyeri dada yang disertai tanda-tanda bahaya lainnya.
Melalui edukasi kesehatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya deteksi dini dan penanganan cepat agar risiko komplikasi akibat penyakit jantung koroner dapat ditekan.
Anda mempunyai konten untuk ditayangkan di myPangandaran.com dan jaringannya seperti berita, opini, kolom, artikel, berita foto, video, release Perusahaan atau informasi tempat bisnis di Pangandaran.
Kirimkan tulisan anda melalui
Kontribusi dari Anda
Berikan Komentar Via Facebook