Mahasiswa KKN-PPM UGM Bantu Angkat Potensi Agrowisata Anggrek Terpendam di Banjarharja Kalipucang Pangandaran
Oleh Novi Dwi Wahyuningsih | Senin, 20 Juli 2026 07:50 WIB | 75 Views
KALIPUCANG, PANGANDARAN - Di balik rimbunnya rumah kaca (greenhouse) yang berdiri di Dusun Bulakbanjar, Desa Banjarharja, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, tersimpan kisah panjang seorang warga lokal yang menyulap hobi menjadi bisnis anggrek beromzet menjanjikan sekaligus berpotensi menjadi destinasi wisata edukasi. Beliau adalah Wahyu Wibisono, pemilik Wibi Orchid Nursery dan dibantu oleh Abah Wahli Supriyadi, yaitu dua sosok di balik geliat usaha yang sudah menembus pasar nasional dan menarik perhatian pengunjung.
Berawal dari Ketidaktahuan, Berujung Kecintaan
Perjalanannya bersama anggrek disebut tidak dimulai dari kecintaan, melainkan dari ketidaktahuan. Sebagai seseorang yang mempunyai latar belakang di bidang pertanian, ia semula sama sekali tidak tertarik pada tanaman berbunga elok ini. Titik baliknya justru datang ketika ia mulai mempelajari sisi bisnis anggrek dan menyadari potensi ekonominya yang besar.
“Kita merawat makhluk Allah, insya Allah Allah akan merawat kita,” demikian filosofi yang dipegang Abah Wahli dalam menjalankan usaha pemulihan dan budidaya tanaman ini.
Kini, setelah enam tahun berjalan, usahanya telah berkembang menjadi tiga unit greenhouse yang dibangun secara bertahap dan disatukan menjadi beberapa klaster untuk efisiensi sistem irigasi.
Budayawan Sunda yang Menjaga Warisan
Selain aktif di bidang pertanian, Abah Wahli juga dikenal sebagai budayawan Sunda. Pengetahuannya tentang sejarah desa juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang berkunjung. Menurut penuturan Abah Wahli nama “Banjarharja” berasal dari gabungan dua kata: “Banjar” yang diambil dari nama seorang tokoh penting di masa lalu yaitu Kyai Banjar, dan “raharja” yang bermakna kemakmuran. Nama awal wilayah ini disebut sempat menjadi “Banjar Raharja” sebelum akhirnya diubah menjadi “Banjarharja” karena adanya kesamaan nama dengan wilayah lain di Kabupaten Ciamis pada masa itu.
Abah Wahli ini juga tercatat sebagai salah satu perangkat desa generasi pertama di Banjarharja yang hingga kini masih hidup, serta pernah terlibat dalam proses pemekaran Desa Banjarharja dari Desa Tunggilis. Rekam jejaknya sebagai penggerak desa turut mengantarkannya meraih penghargaan sebagai penyuluh pertanian dan pengurus lembaga desa terbaik tingkat nasional pada masanya.
Permintaan Pasar Tinggi, Tantangan Besar
Di tengah tingginya permintaan pasar anggrek, Kang Wahyu justru menghadapi tantangan birokrasi domestik. Ia menyoroti sulitnya regulasi karantina untuk pengiriman anggrek antarpulau (di luar Jawa, Sumatera, dan Bali) dibandingkan proses masuknya anggrek impor dari Thailand ke Indonesia yang jauh lebih mudah. Menurutnya, hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman sebagian kalangan birokrasi terhadap perbedaan anggrek hasil budidaya dengan anggrek yang dilindungi dari alam liar.
Tantangan lain datang dari sisi sumber daya manusia yaitu sulitnya mempertahankan tenaga ahli di laboratorium kultur jaringan, serta tingginya biaya produksi untuk memenuhi permintaan pasar akan “produk klon” anggrek berskala besar seperti yang biasa diimpor petani dari Thailand.
Magnet Wisata yang Belum Tergarap Maksimal
Di balik tantangan tersebut, Wibi Orchid Nursery menyimpan potensi agrowisata yang menjanjikan. Wibi Orchid Nursery ini merupakan bagian dari P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya) dan tercatat sebagai satu-satunya kebun anggrek berbasis P4S di kawasan Pangandaran.
Reputasinya bahkan telah menarik kunjungan sejumlah tokoh, mulai dari akademisi internasional hingga pejabat tinggi negara seperti Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang berkunjung sebanyak dua kali bersama sang istri yang juga penggemar anggrek. Kunjungan riset dari berbagai perguruan tinggi — mulai dari Universitas Siliwangi (Unsil), Universitas Winaya Mukti (Unwim) Bandung, hingga kampus-kampus lain di Indonesia — juga rutin dilakukan untuk pembelajaran kultur jaringan dengan biaya penelitian yang jauh lebih terjangkau dibandingkan tempat lain.
Sayangnya, potensi ini belum tergarap maksimal sebagai program wisata resmi. Rencana menjadikan lokasi ini sebagai destinasi agrowisata sempat mengemuka, termasuk melalui pembahasan di tingkat provinsi, namun terkendala pemahaman pemerintah daerah tentang potensi besar sektor pariwisata berbasis tanaman hias ini terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kalau di anggrek, insya Allah sejuta umat yang tahu,” ungkap Kang Wahyu optimistis, membandingkan daya tarik promosi anggrek dengan produk pertanian lain yang menurutnya jauh lebih sulit dipasarkan.
Geliat Promosi Digital
Untuk menjangkau pasar lebih luas, Kang Wahyu mengandalkan promosi melalui media sosial, khususnya siaran langsung (live streaming) di Facebook setiap selepas waktu Subuh dan Isya. Ia dapat ditemukan melalui akun Facebook atas nama Wahyu Wibisono maupun akun TikTok “wibi orchid nursery”. Sistem pemasarannya cukup unik, calon pembeli yang memesan lewat tayangan live cukup mengirimkan tangkapan layar (screenshot) pesanan langsung kepadanya untuk diproses.
Menyongsong Masa Depan Bersama Mahasiswa KKN-PPM
Potensi besar ini kini mendapat dukungan tambahan dari program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) yang tengah berlangsung di Desa Banjarharja. Mahasiswa peserta KKN berencana menyusun rekomendasi pengembangan potensi agrowisata anggrek ini, sekaligus membangun akun media sosial instagram dengan nama “banjarharja_bercerita” untuk mempromosikan berbagai potensi desa — mulai dari agrowisata, UMKM, pertanian, hingga peternakan — serta membantu perancangan logo dan katalog usaha.
Dengan kombinasi keunikan budidaya anggrek berstandar internasional, rekam jejak personal pemiliknya yang inspiratif di berbagai bidang, serta dukungan promosi digital yang mulai digarap lebih serius, Wibi Orchid Nursery berpeluang besar bertransformasi dari sekadar kebun pembibitan menjadi ikon agrowisata baru di Kabupaten Pangandaran — asalkan sinergi antara pelaku usaha, masyarakat, dan pemerintah daerah dapat terjalin lebih erat ke depannya.
Artikel ini disusun berdasarkan hasil wawancara langsung dengan pemilik Wibi Orchid Nursery di Desa Banjarharja, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran.
Penulis : Novi Dwi Wahyuningsih
Anda mempunyai konten untuk ditayangkan di myPangandaran.com dan jaringannya seperti berita, opini, kolom, artikel, berita foto, video, release Perusahaan atau informasi tempat bisnis di Pangandaran.
Kirimkan tulisan anda melalui
Kontribusi dari Anda
Berikan Komentar Via Facebook