myPangandaran News | Berita Pangandaran Terkini

Sulit Dapat BBM, 50 Ribu Warga Langkaplancar Pangandaran Harus Tempuh 60 Kilometer ke SPBU

Oleh Amin Pnd pada Rabu, 02 September 2026 18:31 WIB

LANGKAPLANCAR - Sekitar 50 ribu warga yang tersebar di 15 desa di Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, hingga kini belum memiliki satu pun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan transportasi maupun aktivitas pertanian.
 
Selama ini warga mengandalkan kios bensin eceran atau harus menempuh perjalanan hingga sekitar 60 kilometer ke SPBU di Kecamatan Parigi untuk membeli BBM. Situasi tersebut dinilai memberatkan karena membutuhkan biaya tambahan, waktu tempuh yang panjang, serta harus melewati kondisi jalan pegunungan yang cukup menantang.
 
Salah seorang warga Langkaplancar, Anton, mengatakan masyarakat memahami aturan pemerintah terkait pembelian BBM menggunakan jeriken. Menurutnya, warga bersedia memenuhi seluruh persyaratan administrasi yang diperlukan demi memperoleh BBM secara legal.
 
“Kendalanya di sini tidak ada pom bensin dan hanya mengandalkan kios bensin, sementara kehidupan ekonomi harus berjalan,” kata Anton, Rabu (2/9/2026).
 
Ia menegaskan masyarakat tidak berniat melanggar aturan. Pembelian BBM menggunakan jeriken dilakukan melalui mekanisme yang telah ditentukan, termasuk melengkapi surat rekomendasi dari instansi terkait.
 
“Kita sadar hukum dan aturan. Membeli BBM dengan jeriken juga dengan aturan dan mekanisme. Ada surat dari Dinas Pertanian, ada dari pemerintah desa dan surat rekomendasi yang diperlukan,” ujarnya.
 
Menurut Anton, kebutuhan BBM di Langkaplancar cukup tinggi karena mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan pekebun. BBM digunakan untuk mengoperasikan traktor, pompa air, gergaji mesin, hingga kendaraan pengangkut hasil pertanian.
 
Keluhan serupa disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Pangandaran, Dede Efendi. Ia menyebut mayoritas warga Langkaplancar menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan yang sangat bergantung pada ketersediaan BBM.
 
“Mereka mayoritas bekerja sebagai petani dan berkebun, semua kegiatannya memerlukan BBM,” kata Dede.
 
Dede mengungkapkan, selama ini warga yang membutuhkan BBM dalam jumlah tertentu terpaksa membeli menggunakan jeriken dari SPBU di Kecamatan Parigi. Namun belakangan masyarakat mengaku semakin sulit mendapatkan BBM dengan cara tersebut.
 
“Tapi sekarang-sekarang ini sulit untuk membeli BBM menggunakan jerigen ke SPBU,” ujarnya.
 
Menurut Dede, persoalan tersebut sebenarnya telah beberapa kali dibahas bersama pemerintah dan instansi terkait. Bahkan pernah ada kebijakan yang memperbolehkan warga membeli BBM menggunakan jeriken dengan syarat melengkapi surat rekomendasi dari dinas terkait.
 
Ia menjelaskan, belum hadirnya SPBU di Langkaplancar dipengaruhi kondisi geografis wilayah yang berada di kawasan pegunungan dengan akses jalan berkelok serta banyak tanjakan dan turunan curam.
 
“Kendalanya akses jalan, sehingga kendaraan tangki pengangkut BBM dari Pertamina tidak dapat menempuh perjalanan ke wilayah Kecamatan Langkaplancar,” katanya.
 
Karena itu, Dede meminta pemerintah daerah bersama pihak terkait segera mencari solusi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan BBM masyarakat, baik melalui pembangunan SPBU maupun fasilitas distribusi BBM yang lebih dekat dan mudah dijangkau warga.
 
“Ke depan pemerintah harus memikirkan terkait syarat utama untuk membuat SPBU dan meminta kepada semua pihak untuk bisa memberikan kebijakan khusus untuk masyarakat di Kecamatan Langkaplancar terkait pemenuhan kebutuhan BBM,” pungkasnya.
 
Sulitnya akses BBM juga dirasakan Tesa Rodiansyah, seorang petani di Desa Cimanggu. Ia mengaku sudah dua hari tidak mendapatkan BBM karena stok di kios bensin setempat habis.
 
“Kemarin gak kebagian, sekarang juga. Saya kan harus nganter hasil pertanian. Mana harga timun sedang turun,” keluhnya.
 
Kondisi ini menjadi persoalan serius bagi masyarakat Langkaplancar. Bagi warga, BBM bukan hanya kebutuhan kendaraan, melainkan penunjang utama aktivitas pertanian dan roda perekonomian puluhan ribu penduduk di wilayah pegunungan Pangandaran tersebut.