Petani Cibenda Alami Gagal Panen, Dinas Pertanian Pangandaran Sebut Belum Ada Laporan
Oleh Amin Pnd pada Jum'at, 31 Juli 2026 10:33 WIB
PANGANDARAN - Seorang petani di Desa Cibenda, Kecamatan Parigi, mengaku mengalami gagal panen akibat kekeringan yang menyebabkan hasil produksi padinya merosot drastis.
Sementara klaim Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran yang menyebut belum ada laporan gagal panen pada musim kemarau mendapat bantahan dari kondisi yang dialami sebagian petani di lapangan.
Cicih (52), petani asal Desa Cibenda, mengatakan hasil panen dari lahan seluas 100 bata yang biasanya mencapai lebih dari lima kuintal gabah kini hanya sekitar 50 kilogram.
"Ya panen tapi gagal. Yang 100 bata paling sekarang hasilnya cuma 50 kilogram," ujar Cicih kepada wartawan di Desa Cibenda, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, musim kemarau yang berkepanjangan membuat sawah kekurangan pasokan air. Kondisi tersebut diperparah dengan serangan hama walang sangit serta burung pipit yang ikut menurunkan hasil produksi.
"Sekarang kekeringan, kurang air, terus banyak hama kung kang (walang sangit), terus banyak burung pipit," katanya.
Cicih mengaku kerugian yang dialami cukup besar karena biaya produksi yang telah dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil panen yang diperoleh. Untuk mengolah lahan seluas 100 bata saja, biaya membajak sawah mencapai Rp350 ribu, belum termasuk kebutuhan pupuk dan ongkos tanam.
"Sekarang rugi. Bajak sawah per 100 bata ongkosnya Rp350 ribu, belum pupuk satu kuintal per 100 bata, terus waktu tanam juga banyak biaya. Pengeluarannya besar, sedangkan panennya cuma 50 kilogram," ujarnya.
Ia berharap pemerintah segera menghadirkan solusi melalui pembangunan jaringan irigasi atau penyediaan sumur bor agar petani tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
"Kalau ada air hasilnya bisa maksimal. Minimal ada sumur bor dari pemerintah. Sekarang mah enggak ada," katanya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, Yadi Gunawan, menyatakan musim kemarau tahun ini belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian. Ia menilai tanaman padi yang sudah memasuki fase tinggi memiliki perakaran yang kuat sehingga masih mampu bertahan meski debit air di saluran irigasi mulai berkurang.
"Tapi padi yang mereka tanam sudah tinggi, sehingga akarnya sudah kuat dan tidak mudah mati," kata Yadi.
Yadi juga menyebut petani di Pangandaran telah mampu menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim. Pendampingan dari penyuluh pertanian dinilai turut membantu petani mengantisipasi dampak kemarau.
"Petani di Pangandaran sudah pintar-pintar. Bahkan sampai sekarang kami belum menerima laporan kalau ada yang mengalami gagal panen," ujarnya.
Menurutnya, cuaca di Pangandaran masih cenderung fluktuatif karena hujan masih sesekali turun sehingga membantu memenuhi kebutuhan air tanaman padi.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, luas areal persawahan di daerah tersebut mencapai 18.258,40 hektare yang tersebar di 10 kecamatan. Dari total luas itu, sekitar 50,45 hektare berpotensi terdampak kekeringan.
Meski demikian, hingga saat ini Dinas Pertanian menyatakan belum menerima laporan resmi terkait sawah yang mengalami puso atau gagal panen.
"Hingga saat ini, berdasarkan laporan yang masuk, tidak ada sawah yang mengalami puso atau gagal panen," kata Yadi.