myPangandaran News | Berita Pangandaran Terkini

Pesona di Tengah Teluk Pangandaran

Oleh Adhitya Ramadhan pada Senin, 03 Mei 2010 05:47 WIB

Pangandaran,myPangandaran.com-

Tidak di semua tempat wisata kita bisa menikmati indahnya pemandangan saat matahari terbit dan terbenam sekaligus. Namun, di kawasan wisata Pangandaran, Kabupaten Ciamis, sekitar 200 kilometer dari Kota Bandung, dua keindahan tersebut dapat disaksikan.

Lokasi itu persis di Pananjung, sebuah daratan yang menjorok ke laut yang ada di Pantai Pangandaran. Dulu sebelum ada bangunan hotel dan permukiman, kita hanya berada di satu titik sudah dapat menikmati keindahan matahari terbit dan terbenam.

Kini kita memang masih bisa menikmati keindahan itu, tetapi harus berpindah tempat. Saat melihat sang surya terbit, kita harus berada di pantai timur. Saat ingin memandang matahari terbenam, kita berpindah ke pantai barat Pangandaran.

Pananjung merupakan sebuah tanjung yang ditutupi hutan. Hutan dan laut di sekitar Pananjung terbagi dalam tiga status, pertama taman wisata alam (TWA) seluas 37,70 hektar, cagar alam (CA) seluas 419,3 hektar, dan cagar alam laut (CAL) seluas 470 hektar.

TWA dikelola Perum Perhutani, sementara CA dan CAL ditangani Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat. Lahan TWA merupakan hutan yang berada di sekeliling Pananjung dan CA berada di tengah. Adapun CAL berada di sekitar tanjung Pananjung.

Keanekaragaman hayati, baik di TWA, CA, maupun CAL, berpotensi dijadikan ekowisata. Di TWA dan CA, misalnya, ada kera abu-abu (Macaca fascicularis), lutung (Tracypithecus auratus), dan rusa (Cervus timorensis). Adapun di CAL terdapat taman laut di dekat pantai pasir putih di ujung Pananjung.

Sebelum Gunung Galunggu meletus awal tahun 1980-an, banteng masih ditemui. Namun, setelah itu satu demi satu banteng di Pananjung punah karena berbagai sebab.

Wisatawan yang berkunjung ke Pananjung pada awal musim hujan dapat melihat flora khas Pananjung, yakni Rafflesia padma. Di sana tanaman itu ditemukan pertama kali pada tahun 1939. Penemuan ini kemudian mengubah status Pananjung dari suaka margasatwa menjadi cagar alam tahun 1961.

Rafflesia padma pertama kali ditemukan Karl Ludwig Blume di Pulau Nusakambangan tahun 1825. Blume adalah pemimpin Kebun Raya Bogor yang menggantikan Dr CGL Reindwardt.

Air terjun

Tidak semua orang diperbolehkan masuk ke kawasan konservasi kecuali untuk kepentingan penelitian, pembicara/" target="_blank">pendidikan, dan pengetahuan. Hanya TWA yang dibuka untuk kepentingan wisata. Selama di dalam kawasan, pengunjung selalu didampingi petugas.

Menurut Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Air Jabar Wilayah III Pandji Yudistira, tidak jarang pengunjung yang justru ingin memuaskan rasa keingintahuannya terhadap kawasan konservasi Pananjung dengan berwisata ke tengah cagar alam. Salah satu tempat favorit adalah air terjun yang langsung menghadap ke laut lepas. Di air terjun itulah terkadang wisatawan asing mandi dengan bebas.

Pananjung tidak hanya menyimpan keanekaragaman hayati. Letaknya yang berada di tengah-tengah Teluk Pangandaran mampu meredam laju gelombang tsunami tahun 2007 yang meluluhlantakkan Pangandaran. Gelombang tsunami yang datang dari laut lepas menuju Pangandaran dihalau Pananjung terlebih dahulu. Tidak terbayangkan apa jadinya jika tidak ada Pananjung. Tentu dampak tsunami akan lebih parah karena tidak ada yang meredam gelombang.

Pemerintah daerah perlu menata lagi kawasan Pangandaran dengan lebih baik sehingga aktivitas pariwisata tidak merusak keberadaan kawasan konservasi. Jika kelestarian cagar alam Pananjung terjaga, hal itu menjadi modal bagi pengembangan pariwisata berbasis keanekaragaman hayati. 

#