myPangandaran News | Berita Pangandaran Terkini

Minim Informasi, Warga Ambil Batu Bara di Perairan Batu Hiu Diduga Mengandung Unsur B3

Oleh Amin Pnd pada Senin, 22 Juni 2026 13:55 WIB

PANGANDARAN - Tumpahan batu bara dari kapal Tongkang Nautica 22 di perairan Sukaresik hingga Batu Hiu, Kabupaten Pangandaran, menarik perhatian warga. Di tengah minimnya informasi mengenai dampak material tersebut, sejumlah warga terlihat mengambil batu bara yang terdampar di pesisir untuk dibawa pulang dan digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran berbagai pihak karena batu bara yang terbawa ombak ke pantai berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun kesehatan jika ditangani tanpa prosedur yang tepat.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Kabupaten Pangandaran, Een Rohimah, mengatakan pihaknya bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat telah melakukan pengambilan sampel untuk mengkaji dampak tumpahan batu bara tersebut.

Menurutnya, sebelum pengambilan sampel dilakukan, tim DLH Provinsi Jawa Barat terlebih dahulu melakukan pemetaan menggunakan foto udara drone guna mengetahui titik-titik terdampak. Selanjutnya, tim mengambil sampel air laut, sedimen laut, dan biota laut di lokasi kejadian.

“Pengambilan sampel sudah dilakukan bersama DLH Provinsi Jawa Barat. Sampel yang diambil meliputi air laut, sedimen laut, dan biota laut. Hasil uji laboratorium diperkirakan keluar dalam waktu 14 hari dan akan disampaikan oleh DLH Provinsi Jawa Barat,” kata Een.

Sementara itu, External Relation PT Trans Logistik Perkasa, Agus Hermawan, mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil maupun menggunakan batu bara yang tercecer di pesisir sebagai bahan bakar rumah tangga.

Menurut Agus, batu bara tersebut mengandung unsur bahan berbahaya dan beracun (B3) serta tidak dapat terbakar secara optimal menggunakan peralatan rumah tangga yang memiliki suhu pembakaran rendah.

“Batu bara tersebut seharusnya tidak diambil, apalagi digunakan sebagai bahan bakar rumahan karena mengandung bahan B3 dan tidak bisa dibakar dengan suhu rendah,” ujar Agus.

Di sisi lain, upaya percepatan penanganan dampak tumpahan batu bara terus dilakukan. Ketua DPRD Pangandaran, Asep Noordin, bersama unsur pemerintah daerah, instansi terkait, dan berbagai pemangku kepentingan menggelar rapat koordinasi di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Pangandaran.

Rapat tersebut membahas langkah-langkah penanganan tumpahan batu bara, mulai dari percepatan pembersihan kawasan pesisir yang terdampak, mitigasi dampak lingkungan, hingga strategi penyampaian informasi kepada masyarakat agar tidak mengambil maupun memanfaatkan material batu bara yang tersebar di sepanjang pantai.

Selain itu, pihak terkait juga didorong untuk segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai potensi risiko yang ditimbulkan oleh tumpahan batu bara, sekaligus memperkuat pengawasan di lokasi terdampak guna mencegah aktivitas pengambilan material oleh warga.

Hingga saat ini, proses penanganan tumpahan batu bara di kawasan pesisir Sukaresik-Batu Hiu masih berlangsung. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus berupaya menekan dampak lingkungan akibat insiden tersebut sambil menunggu hasil uji laboratorium yang akan menjadi dasar langkah penanganan selanjutnya.