Anggota DPR RI Ida Nurlaela Soroti Dampak Kenaikan Dolar terhadap Harga Komoditas di Pangandaran
Oleh Amin Pnd pada Rabu, 20 Mei 2026 13:23 WIB
PANGANDARAN - Harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional Kabupaten Pangandaran mulai merangkak naik dalam sepekan terakhir. Kenaikan tersebut dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini menembus Rp17.600 per dolar AS.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Industri Kabupaten Pangandaran, Tedi Garnida mengatakan, pelemahan rupiah berdampak terhadap beberapa komoditas di pasar tradisional di Pangandaran.
“Ada beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga terjadi sejak pekan lalu,” ujar Tedi, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia menjelaskan, sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga di antaranya cabai keriting dari Rp45 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram, cabai rawit dari Rp70 ribu menjadi Rp80 ribu per kilogram, cabai hijau dari Rp26 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram, bawang merah dari Rp43 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram, serta daging ayam broiler dari Rp39 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram.
Meski terjadi kenaikan harga, Tedi memastikan stok kebutuhan pokok di pasar masih tersedia.
“Memang ada kenaikan harga, tapi belum signifikan dan stok pun masih tersedia. Hanya saja stoknya mulai berkurang, tidak seperti sebelum-sebelumnya,” katanya.
Sementara itu, anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Ida Nurlaela Wiradinata menilai pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan di pasar keuangan, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.
Menurut Ida, kenaikan kurs dolar dapat memicu naiknya harga sembako dan biaya hidup masyarakat.
“Rakyat desa memang tidak memakai dolar, tetapi setiap kenaikan kurs terasa di harga sembako dan biaya hidup. Negara harus hadir menjaga stabilitas ekonomi rakyat sampai ke desa,” kata Ida.
Ia menjelaskan, tekanan nilai tukar rupiah juga mulai dirasakan pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor. Produsen tahu, tempe, roti hingga produk susu olahan disebut menghadapi kenaikan biaya produksi di tengah daya beli masyarakat yang melemah.
“Kenaikan biaya impor dan distribusi berpotensi menekan pelaku UMKM, koperasi, serta rantai distribusi pangan yang menjadi tulang punggung ekonomi desa,” ujarnya.
Ida meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga dan distribusi pangan agar dampak gejolak ekonomi global tidak semakin membebani masyarakat.
“Negara perlu memastikan stabilitas harga, kelancaran distribusi, dan perlindungan terhadap pelaku usaha kecil agar gejolak global tidak berubah menjadi beban ekonomi rakyat di tingkat akar rumput,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor sejumlah komoditas pangan strategis seperti gandum, kedelai, bawang putih, susu, hingga gula industri. Kondisi tersebut dinilai membuat harga kebutuhan pokok rentan melonjak ketika rupiah melemah.
“Ketika rupiah melemah tajam, biaya pengadaan semua komoditas itu langsung membengkak dalam hitungan hari,” pungkasnya.