myPangandaran News | Berita Pangandaran Terkini

Dari Balik Seragam, ASN Pangandaran Sulap Lahan Kosong Jadi Ladang Cuan Miliaran

Oleh Amin Pnd pada Minggu, 17 Mei 2026 09:18 WIB

PANGANDARAN - Di tengah hamparan lahan hijau yang membentang blok Pamugaran Kabupaten Pangandaran, sosok Agus Muhyanto tampak sibuk memeriksa tanaman semangka tanpa biji miliknya. Tak banyak yang menyangka, pria yang sehari-hari berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) itu kini sukses mengembangkan usaha hortikultura dengan omzet mencapai miliaran rupiah.

 
Bagi Agus, bertani bukan sekadar pekerjaan sampingan. Dunia pertanian telah menjadi ruang pengabdian sekaligus harapan baru bagi masyarakat di daerahnya.
 
Di bawah terik matahari, lahan semangka seluas sekitar 10 hektare yang ia kelola tampak dipenuhi buah-buah berukuran besar siap panen. Semangka tanpa biji varietas Tantra Dici menjadi komoditas andalannya. Dalam sekali musim panen, hasil produksi ditargetkan mencapai 150 hingga 200 ton.
 
“Estimasi total lahan yang kita kelola untuk semangka sekitar 10 hektare. Untuk sekali panen targetnya minimal 150 sampai 200 ton,” ujar Agus saat diwawancarai Kabarpangandaran, Sabtu (16/5/2026).
 
Kesuksesan Agus tidak hadir dalam semalam. Selain semangka, ia juga mengembangkan berbagai tanaman hortikultura lain seperti pepaya, tomat, melon hingga cabai. Menurutnya, Pangandaran memiliki potensi pertanian yang sangat besar apabila dikelola secara serius.
 
Dalam setahun, Agus bersama para pekerjanya mampu melakukan panen hingga tiga kali. Hasil panen tersebut dipasarkan ke berbagai wilayah di Pangandaran dan sekitarnya. Bahkan sebagian produksi semangka turut didistribusikan untuk mendukung program MBG (Makan Bergizi Gratis) melalui dapur-dapur penyedia makanan.
 
“Kita distribusikan juga ke dapur-dapur untuk program MBG. Tetapi kebutuhan semangka di Pangandaran masih sangat kurang, sehingga masih harus mengambil pasokan dari luar daerah seperti Lampung, Jepara, dan Palembang,” katanya.
 
Tingginya kebutuhan semangka di Pangandaran justru dilihat Agus sebagai peluang besar bagi masyarakat. Ia menilai sektor hortikultura masih sangat terbuka dan mampu menjadi sumber penghasilan menjanjikan.
 
Apalagi, masa tanam semangka tanpa biji tergolong singkat. Sejak bibit dipindahkan ke lahan, tanaman sudah bisa dipanen dalam waktu sekitar 60 hari.
 
“Dari mulai pindah media tanam ke tanah itu sekitar 60 hari sudah bisa panen,” jelasnya.
 
Tak hanya fokus mengejar hasil panen, Agus juga membuka ruang belajar bagi masyarakat yang ingin menekuni budidaya semangka. Ia kerap melibatkan warga dan pekerja untuk belajar langsung di lapangan, mulai dari proses penanaman hingga perawatan tanaman.
 
“Siapa saja yang mau belajar kita silakan. Harapannya mereka juga bisa mengembangkan budidaya semangka di Pangandaran,” ungkapnya.
 
Meski harga semangka di pasaran kerap naik turun mengikuti kondisi pasar, Agus tetap optimistis terhadap masa depan pertanian hortikultura di Pangandaran. Baginya, pertanian bukan sekadar soal panen, tetapi tentang membuka peluang ekonomi dan menumbuhkan semangat kemandirian masyarakat.
 
Dari balik seragam ASN, Agus membuktikan bahwa pertanian modern mampu menjadi jalan menuju kesejahteraan. Di tangan orang yang tekun dan mau belajar, ladang bukan hanya menghasilkan buah, tetapi juga harapan baru bagi daerah.