Edukasi Praktis Mahasiswa KKN UGM: Sulap Urin Sapi Jadi Pupuk Cair Berkualitas dengan Botol Bekas di Kalipucang Pangandaran
Oleh Darlene Jessica Kimbal pada Selasa, 28 Juli 2026 11:01 WIB
PANGANDARAN - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menghadirkan solusi teknologi tepat guna yang inovatif dan terjangkau bagi para peternak di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. Berpusat di Desa Banjarharja, tim KKN UGM melaksanakan program kerja pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbahan dasar urin sapi. Uniknya, metode yang diaplikasikan dirancang sangat merakyat, yakni memanfaatkan limbah botol air mineral bekas.
Program kerja yang berlangsung pada pertengahan bulan Juli 2026 ini diinisiasi sebagai respons taktis terhadap dua isu utama di masyarakat. Pertama, melimpahnya limbah sanitasi ternak berupa urin sapi yang berpotensi mencemari lingkungan. Kedua, tingginya biaya produksi pertanian yang dikeluhkan oleh petani akibat fluktuasi harga pupuk kimia.
Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa UGM memperkenalkan metode fermentasi anaerob fakultatif untuk mengolah urin sapi. Metode ini dipilih karena kesederhanaan dan kepraktisannya, sehingga dapat langsung direplikasi oleh warga tanpa memerlukan peralatan mahal.
Proses pembuatannya relatif mudah untuk dipraktikkan. Urin sapi segar dicampurkan dengan larutan dekomposer (bakteri pengurai) dan sumber makanan bakteri berupa tetes tebu (molase) atau larutan gula merah.
Campuran cairan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam botol air mineral bekas.
Kunci teknis dari metode anaerob fakultatif ini terletak pada teknik penutupan botol. Tutup botol sengaja dilonggarkan atau tidak ditutup rapat sepenuhnya. Langkah strategis ini bertujuan memberikan ruang bagi gas hasil fermentasi (seperti metana dan amoniak) untuk menguap, sehingga mencegah tekanan berlebih yang berisiko membuat botol meledak, namun tetap membatasi masuknya oksigen secara berlebih.
Proses fermentasi ini dibiarkan selama kurang lebih dua hingga tiga minggu di tempat teduh. Indikator keberhasilannya ditandai dengan hilangnya bau amoniak yang tergantikan oleh aroma fermentasi khas yang menyerupai wangi tape.
Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit) KKN UGM Sinarang Kalipucang, menegaskan bahwa pendekatan ini difokuskan pada keberlanjutan program pasca-KKN.
"Kami menyadari bahwa keberlanjutan sebuah program bergantung pada aksesibilitas metodenya. Memanfaatkan botol bekas dan teknik anaerob fakultatif memungkinkan setiap warga, tanpa memandang tingkat ekonomi, mampu memproduksi pupuk berkualitas secara mandiri. Ini adalah langkah konkret mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan ketahanan pangan di Kalipucang," jelasnya.
Inisiatif mahasiswa ini mendapatkan apresiasi langsung dari masyarakat setempat. Salah satu tokoh kelompok tani Desa Banjarharja menuturkan bahwa pendekatan yang digunakan sangat aplikatif.
"Program ini sangat membumi. Adik-adik KKN UGM tidak membawa alat-alat canggih yang sulit kami beli, melainkan memakai botol bekas yang gampang dicari. Ini ilmu yang sederhana tapi dampaknya luar biasa untuk produksi perkebunan maupun pertanian desa," ujarnya.
Pengaplikasian POC secara langsung memberikan beberapa keuntungan bagi petani, di antaranya biaya yang murah, ramah lingkungan, serta menyediakan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Pada intinya, melalui proses tersebut memiliki dampak positif bagi pertumbuhan tanaman.
Namun, mahasiswa turut memberikan catatan penting bagi warga. Biourine idealnya diaplikasikan lewat penyemprotan atau penyiraman pada waktu sore atau pagi hari, ketika matahari tidak sedang bersinar terik. Pupuk ini juga disarankan untuk segera digunakan setelah 1 hingga 2 minggu masa penyimpanan agar khasiatnya tetap bekerja maksimal.
Melalui program pemberdayaan ini, diharapkan masyarakat Desa Banjarharja dan sekitarnya mampu memutus rantai polusi lingkungan dari sektor peternakan, sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi melalui produksi pupuk mandiri yang berkualitas.
Penulis: Darlene Jessica Kimbal