Cerita di Pangandaran
BBM Naik dan Pangandaran, Kisah Johar Dwiaji Pertama Kali ke Pangandaran

BBM Naik dan Pangandaran, Kisah Johar Dwiaji Pertama Kali ke Pangandaran

Hidup adalah pilihan. Kalimat ini terdengar biasa saja. Klise. Sering diungkapkan oleh banyak orang. Tetapi bagiku, kalimat ini memang benar adanya. Hidup memang pilihan. Pilihan yang kuambil kali ini adalah: memenuhi sebuah undangan.

Rasanya seperti undangan yang begitu berat. Sehingga sampai membawa-bawa filosofi mengenai hidup. Hidup yang terdiri dari pilihan-pilihan. Ahhh... kenapa sampai bawa-bawa filosofi segala, sih...?! Hahahaa....

Undangan kali ini bukan berasal dari mantan pacar yang menikah. Bukan pula undangan untuk menghadiri reuni. Apalagi undangan kondangan, tujuhbulanan, atau sunatan. Undangan ini adalah undangan untuk menghadiri tes di sebuah perusahaan. Yap! Rekrutmen lebih tepatnya. Perusahaan tersebut adalah Susi Air. Sebuah maskapai penerbangan yang berpusat di Pangandaran, Jawa Barat.

Jangan salah...?! Bukannya aku mau berpromosi. Aku hanya sebatas menyebutkan perusahaannya saja. Kali ini aku tak hendak menceritakan rangkaian tes yang telah kujalani. Melainkan perjalanan yang kualami, hingga aku mencapai Pangandaran. Sebuah tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya.

Aku suka berjalan-jalan. Mengunjungi tempat-tempat baru. Seraya mengetahui dan belajar memahami, banyak hal yang baru. Begitu juga adat atau lingkungan yang belum pernah kudatangi. Dalam setiap pengalaman, kucoba untuk meresapinya. Menjadikannya sebagai pengetahuan yang berharga.

Senin, 17 Juni 2013.

Panggilan dari Susi Air datang pada Senin, 17 Juni 2013. Melalui sms yang mengundangku untuk datang pada tes yang diadakan hari Sabtu, 22 Juni 2013. Bertempat di kantor pusat Susi Air yang berada di Pangandaran, Jawa Barat. Kuingat-ingat lagi, darimana aku melamar Susi Air? Hingga aku memperoleh panggilan tes ini.

Ya! Aku ingat. Aku pernah mencoba memasukkan lamaran melalui job fair, yang diadakan di UGM Jogja. Perhatianku kembali tertuju kepada sms dari HRD Susi Air. Tes itu berlangsung lima hari lagi. Waktuku tak banyak, untuk memutuskan. Apakah akan melewatkannya? Atau mengambilnya.

Tak pelak, aku dirundung kebimbangan. Pangandaran bukanlah tempat yang dekat dari domisiliku sekarang. Untuk datang kesana diperlukan biaya yang tak sedikit. Aku bukanlah jutawan yang mempunyai tabungan melimpah. Pesangon dari tempatku bekerja sebelumnya, bukanlah jumlah yang besar.

Rabu, 19 Juni 2013.

Dalam benakku, seolah terdapat dua kubu yang sedang berperang. Keduanya saling baku hantam untuk memenangkan pertandingan. Ragu menggelayutiku. Perlukah aku mendatangi tes yang lokasinya cukup jauh tersebut? Namun, kesempatan tidak datang dua kali. Namanya saja ikhtiar, ‘kan tidak ada yang tahu hasilnya...?

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kuputuskan untuk memenuhi panggilan rekrutmen ini. Aku butuh dua hari untuk memantapkan hati, dan mengirim sms balasan kepada HRD Susi Air. Bahwa aku akan hadir. Sayang jika dilewatkan.

Aku harus mempersiapkan diri. Perjalanan kali ini tak sekadar jalan-jalan belaka. Tetapi merupakan usaha untuk mendapatkan pekerjaan yang baru. Hal pertama yang harus kuselesaikan adalah masalah transportasi. Pangandaran, sejenak membuatku terpaku. Kubuka peta dan googling.

Heeiiii...... Pangandaran terletak di ujung selatan Jawa Barat. Nyaris berbatasan dengan Cilacap, Jawa Tengah. Tetapi, jika aku kesana melalui Cilacap, rasanya cukup sulit transportasinya. Adakah alternatif lain.....???

Yaaaa....?!! Pangandaran bisa dicapai melalui Bandung!!!!

That`s great! Aku bisa mencapai Pangandaran melalui ibukota Jawa Barat ini. Sayangnya aku tak begitu mengetahui Bandung. Aku baru sekali menjejakkan kaki di kota lautan api tersebut. Tepatnya pada pertengahan 2008 lalu. Ketika sedang study tour kuliah. Itupun hanya dua jam! Ya. Dua jam saja. Karena Bandung memang hanya sebatas transit. Kala itu aku cuma beruntung menghirup udara di Cihampelas.

Baiklah. Kesempatan ke Pangandaran kali ini tak akan kusia-siakan. Lalu, dengan kendaraan apa aku akan ke Bandung? Pertama, kucari informasi mengenai maskapai yang melayani rute Surabaya-Bandung. Aku berdomisili tak jauh dari bandara Juanda. Hal ini menjadikan pesawat sebagai pilihan pertamaku, apabila pergi jarak jauh. Yaahh.... sayangnya maskapainya terbatas. Dan.... tiketnya mahalllllll.

Berikutnya adalah kereta api. Untuk menghemat kantung, aku mencari kereta berjenis bisnis. Dapat. Kereta Mutiara Selatan. Kelas bisnis yang berangkat di sore hari, dari stasiun Gubeng.

Aku langsung ke agen perjalanan terdekat. Yaahh..... rupanya aku kurang beruntung. Semula aku berencana bertolak dari Surabaya ke Bandung pada Kamis sore. Akan tetapi kursi bisnis Mutiara Selatan yang kuincar sudah habis. Aku terlambat memesan. Mau tak mau, aku mengalihkannya pada kereta Argo Wilis. Kelas eksekutif. Dan berjadwal pagi, pukul 07.30 WIB. Tidaaaakkkkkkk.......

Apa mau dikata. Berarti hari ini aku harus tidur lebih awal. Karena harus berangkat ke stasiun Gubeng selepas subuh. Kau tahu sendiri, macetnya Surabaya di pagi hari tak kalah dengan Jakarta. Aku tak ingin ketinggalan kereta.

Seluruh barang telah kusiapkan. Baju santai dan setelan formal untuk tes. Sejumlah makanan untuk mengganjal perut di dalam kereta. Uang secukupnya. Ini yang sangat penting: charger ponsel. Juga, berkas-berkas yang kuperlukan untuk menghadapi tes.

Aku juga menghimpun beberapa informasi yang pasti akan berguna selama perjalanan nanti. Informasi mengenai penginapan terjangkau di sekitar stasiun Bandung dan pantai Pangandaran. Termasuk moda transportasi lokal. Baik di Bandung, maupun di Pangandaran.

Kamis, 20 Juni 2013.

Alhamdulillah. Aku bangun sesuai rencana. Kupacu motorku menuju terminal Bungurasih. Kupilih menitipkan motorku di terminal. Karena aku tak yakin, stasiun Gubeng memiliki jasa penitipan sepeda. Kalau di Bungurasih, ada banyak tempat yang menyediakan jasa penitipan sepeda motor. Lantas melanjutkan perjalanan dengan taksi. Dari Bungurasih ke Gubeng cukup jauh. Apalagi situasi pagi pasti crowded. Kupilih taksi untuk menghemat waktu.

Pukul 07.15 aku sudah sampai di Gubeng. Seperempat jam lagi kereta akan berangkat. Kuambil tiket dari saku celana. Aku segera antre di pintu masuk stasiun. Kusodorkan tiket beserta KTP kepada petugas. Kemudian kucari rangkaian kereta yang akan membawaku ke Bandung.

Finally!!!!! Akhirnya aku ke Bandung lagi.....??!!!!

Eiittss.... tunggu. Selalu ada badai di pagi hari. Aku sadar betul. Tadi ketika mandi, aku belum (maaf) buang air besar. Padahal B.A.B di pagi hari amatlah penting. Aku sempat akan ke toilet untuk membereskan hal ini. Namun kulirik arloji. Haahh... sial! Dengan gontai aku tak jadi berbelok ke toilet. Aku langsung menuju ke salah satu gerbong kereta Argo Wilis.

Setelah aku menemukan kursiku, segera aku duduk dan menaruh tas punggungku di dekat kaki. Untuk memudahkanku mengambil makanan yang telah kusiapkan. Aku duduk tidak tenang. Berharap kereta segara berangkat. Lalu aku akan menuju toilet yang ada di ujung gerbong. Ya. Itulah yang kuinginkan sekarang!

Pukul setengah delapan tepat, kereta eksekutif Argo Wilis perlahan-lahan melaju. Horeeee....!!! Pekikku dalam hati. Aku tak hanya senang karena aku bisa segera ke toilet di dalam gerbong. Namun aku bersorak. Petualangan baru akan segera dimulai. Semoga perjalanan kali ini menyenangkan! Amin.

***

Sekitar pukul tujuh malam, akhirnya aku menjejakkan kaki, lagi, di kota kembang. Welcome to Bandung! Dari jendela gerbong, kulihat neon box bertuliskan Bandung dalam ukuran besar. Beserta angka +709. Menandakan Bandung terletak di ketinggian 709 meter dari permukaan laut.

Aku sudah tak sabar ingin segera mereguk aroma Paris Van Java ini. Aku menuju pintu keluar stasiun. Tak disangka, aku berpapasan dengan Dian, salah satu adik kelasku di kampus. Kebetulan, aku menjadi kakak pendampingnya ketika dia menjalani ospek diawal kuliah. Namun dia hendak meninggalkan Bandung. Benar-benar kebetulan.

Keluar dari bangunan stasiun. Aku mulai dihinggapi rasa waswas. Wajar saja. Aku memang gemar berjalan-jalan. Namun baru beberapa kali aku melanglang buana seorang diri. Meski ini kali kedua aku datang ke Bandung, tapi situasinya tentu saja berbeda. Aku menyebut diriku backpacker. Bawaanku terhimpun cuma dalam satu tas punggung. Dan berpetualang sendirian.

Kukeluarkan secarik kertas berisi informasi yang telah kusiapkan kemarin. Sekarang yang harus kulakukan adalah mencari penginapan. Aku hendak menghabiskan malam ini di Bandung. Baru keesokan hari, aku akan melanjutkan perjalanan ke Pangandaran.

Aku keluar dari stasiun. Aku mulai berjalan, mengikuti peta yang ada di tanganku. Tapi kok..... tunggu-tunggu. Sepertinya aku tak sampai-sampai. Jangan-jangan, gambar peta yang telah kucetak ada yang salah? Niatku ingin menuju Hotel Griya Indah. Sebuah penginapan dekat stasiun yang menurut info dari internet, harganya cukup terjangkau. Namun rasanya aku kesasar.

Setelah berjalan cukup jauh, kuputuskan untuk kembali ke area stasiun. Aku melihat ada beberapa hotel di seberang stasiun. Hari semakin malam. Dan aku belum makan. Akhirnya aku masuk ke salah satu hotel terdekat dari stasiun. Sebut saja hotel X.

Kulihat daftar harga di meja resepsionis dengan mulut menganga. Terlanjur masuk, aku memesan satu kamar dengan harga yang paling murah. Harga permalamnya dua kali lipat dari rencana budgetku.

Asal kau tahu, aku mempunyai rencana budget. Berapa maksimal harga permalamnya, aku menginap di Bandung. Karena aku berencana menghabiskan beberapa malam di Bandung, selepas urusanku di Pangandaran.

Ketika registrasi tamu, si resepsionis begitu antusias terhadapku. Rupanya ia berasal dari Ponorogo. Bertemu denganku, ia merasa bertemu dengan saudara. Ya, benar juga. Saudara. Sama-sama orang Jawa Timur. Aku cukup senang mendengarnya. Meski tak akan mengurangi harga hotel yang barusan kubayar. Hikksss......

Kutaruh barang di kamar. Perutku sudah keroncongan. Lebih baik aku segera mencari makan. Sebelum malam semakin larut. Aku kembali ke area stasiun. Di jalan Kebon Kawung ini, tersebar sejumlah pedagang kaki lima dan warung yang menyediakan berbagai kuliner. Kupilih nasi goreng kambing. Yang dijual oleh warung bertuliskan Wong Kebumen. Nasi goreng kambingnya mantap. Untuk menghangatkan badan, ditengah udara malam Bandung, heheheee......

Jumat, 21 Juni 2013.

Hari ini aku harus melanjutkan perjalanan ke Pangandaran. Setelah sarapan pagi, aku segera mandi dan memberesi barang-barangku. Akupun check out, dan melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah terminal Cicaheum.

Sebenarnya aku ingin mencoba angkot untuk menuju kesana. Hitung-hitung penghematan. Namun buru-buru kulanggar janjiku untuk menghemat budget. Aku hanya ingin segera sampai ke terminal Cicaheum. Karena menurut info di internet, perjalanan dari Bandung menuju Pangandaran bisa mencapai enam sampai tujuh jam!

Kupilih sebuah taksi yang melintas di depan stasiun. Di dalam taksi, pak sopir sesekali bertanya padaku. Akhirnya aku bilang juga, bahwa aku berencana menggunakan bus menuju Pangandaran. Dan bus yang hendak kunaiki bernama Budiman. Lagi-lagi kudapat info ini dari internet.

Begitu mendengar tujuanku, pak sopir malah mengantarkanku ke pangkalan bus Budiman. Bukan ke terminal Cicaheum. Menurutnya, akan lebih cepat memperoleh bus langsung di pangkalannya. Baiklah. Aku menurut saja. Nyaris saja aku turun di terminal Cicaheum. Sejenak hatiku mencelos. Benar nggak ya, pak sopir ini? Yang kasat mata sudah jelas. Ongkos taksi meningkat.

Fiuuhhh..... sampai juga. Kalau tidak salah, pangkalan bus Budiman ini tak jauh dari terminal peti kemas Bandung. Benar saja. Di pangkalan, aku langsung mendapati bus jurusan Bandung-Pangandaran, yang kursinya hampir penuh. Untung saja aku masih memperoleh kursi kosong.

Berdasar info dari internet, bus Budiman trayek Bandung-Pangandaran terdiri dari dua jenis. AC dan non-AC. Bisa kau tebak? Aku mendapat bus yang non-AC. Meski Bandung berada di dataran tinggi, tetap saja bila siang hari panas menyengat.

Bus perlahan meninggalkan pangkalan, ketika jam menunjukkan pukul 12.30 WIB. Angin dari celah-celah jendela cukup mengurangi gerahnya udara di dalam bus. Aku lebih suka untuk membuka mataku lebar-lebar. Selain karena panas yang membuat tak nyaman untuk terlelap, pemandangan di sepanjang perjalanan sungguh memukau.

Inilah mengapa tanah Sunda disebut parahyangan. Salah satunya karena alamnya yang begitu indah memesona. Bak alam khayangan. Tanah para dewa. Gunung dan bukitnya amat menawan.

Oh ya. Kalau tak salah, perjalanan ini juga melewati jalur Nagreg. Akhirnya aku tahu juga. Ternyata seperti ini yaa, jalur Nagreg...? Karena seumur-umur, aku hanya tahu mengenai Nagreg di teve, tatkala musim mudik lebaran tiba. Kalau tak salah, Nagreg menjadi salah satu urat nadi jalur mudik pulau Jawa bagian selatan. Sehingga segenap media selalu menjadikannya sasaran pemberitaan perihal mudik.

Berjam-jam aku harus duduk di kursi yang tak terlalu lebar. Sementara, penumpang lain naik dan turun, silih berganti. Namun ada satu hal yang sejak aku naik, tak ada yang berubah. Nyaris seluruh penumpang bercakap-cakap menggunakan bahasa Sunda. Berhubung aku bukan orang Sunda, tentu saja aku tak begitu mengerti, apa-apa yang mereka bicarakan. Selama ini aku hanya sepintas tahu bahasa Sunda, dari Sule di Opera Van Java.

Bahkan sempat, ketika pertama kali pak kondektur menagih ongkos bus kepadaku, dia berkata dalam bahasa Sunda. Mulutku cuma menganga seraya berkata: berapa, pak...? Barangkali dia langsung paham, bahwa aku bukan orang Sunda. Sehingga dia sontak menggunakan bahasa Indonesia. Haddeehhhh......

Ongkos bus Budiman dari Bandung ke Pangandaran, relatif terjangkau. Cukup 35 ribu saja. Daerah Jawa Barat bagian selatan yang kulalui ini, terdiri dari perbukitan. Jalannya naik turun. Berkelok-kelok. Berhubung seolah menembus bukit dan mengiringi jurang, maka jalan rayanya pun tak begitu lebar. Sehingga pak sopir melajukan bus dengan penuh kehati-hatian.

Menjelang maghrib, bus yang kunaiki sempat berhenti cukup lama. Karena harus ganti ban belakang. Mau marah, percuma. Sebal. Hanya bisa pasrah menunggu. Belum lagi ketika perjalanan setelah melalui kota Banjar. Sungguh menguras kesabaran. Jalannya beraspal, tapi berlubang dimana-mana. Sehingga bus harus ekstra pelan saat melaluinya. Termasuk tatkala berpapasan dengan kendaraan yang sama besar dari arah berlawanan.

Pangandaran

Perahu menjadi salah satu wahana di Pangandaran. (foto dok. pribadi)

Akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. Pak kondektur berteriak-teriak. Bagi yang turun di terminal Pangandaran, mohon segera bersiap. Akupun turun dengan badan letih. Mengantuk, dan lapar. Tetapi lega. Karena tujuan utama dalam perjalanan kali ini, sudah ada di depan mata!

Kulihat arloji, pukul 20.00 WIB. Gila! Jadi perjalanan dari Bandung menuju Pangandaran barusan, memakan waktu 7,5 jam!!! Ucapan pak sopir taksi tadi pagi, terngiang-ngiang di benakku. Benar juga katanya. Dari Bandung ke Pangandaran sekitar tujuh jam perjalanan darat.

Kudapati terminal Pangandaran yang telah sepi. Begitu aku turun dari bus, beberapa orang datang mendekat. Rupanya mereka adalah tukang becak. Mereka menawarkan jasa becaknya untuk menuju pantai dan mencari penginapan.

Pintar! Batinku. Tentu saja mereka sungguh paham. Seseorang yang datang ke tempat wisata, dengan hanya menenteng tas ransel, apa lagi kalau bukan wisatawan...? Dan ini sudah malam. Tentu saja sang backpacker hendak mencari penginapan untuk beristirahat. Maka dari itulah, mereka dengan sigap merayu-rayu. Agar sang wisatawan mau menggunakan jasanya.

Namun aku masih cukup percaya diri, untuk menolak halus-halus segala tawaran dari mereka. Di tanganku masih ada informasi yang berisi peta dan sejumlah alamat penginapan di sekitar pantai Pangandaran. Tentu saja penginapan yang terjangkau.

Aku mencoba berjalan menjauhi terminal. Mengikuti arah dari peta kawasan Pangandaran yang sudah kucetak. Berjalan. Aku terus berjalan. Lamat-lamat, aku berjalan hanya mengikuti intuisi. Feeling belaka.

Ohh.... tidaaaakkk.....?!! Tampaknya tragedi ketika aku baru datang di Bandung kemarin, kembali terjadi. Sepertinya aku kurang teliti. Setelah berjalan-jalan cukup lama, tak satupun hotel atau penginapan yang kutemukan. Yang ada malah perkampungan penduduk. Mana pantainya...??! Mana suara debur ombaknya....??!!

Aarrggghhhhh............... aku tersesat! Aku kesasar!

Kali ini aku benar-benar khawatir. Aku seakan berdiri di tempat antah berantah. Aku tak tahu harus kemana. Sontak keringat dingin mulai mengucur. Ingin aku bertanya kepada seseorang. Tetapi batinku menolak. Ada ketakutan, kalau aku malah menerima informasi yang salah. Aku harus waspada. Ini di tempat baru.

Rasa percaya diriku luntur seketika. Dengan gontai aku kembali ke area terminal. Seorang bapak gendut memanggilku. Menawarkan becaknya untuk mencari penginapan. Akhirnya aku mengiyakan tawarannya. Aku lupa belum bertanya mengenai ongkosnya. Yang kupikirkan saat itu hanyalah, bapak ini akan membantuku untuk menemukan penginapan yang sedang kubutuhkan sekarang.

Haahh..... ternyata aku salah jalan. Dari terminal, harusnya aku berjalan kearah kiri. Bukan ke kanan seperti yang tadi kulakukan. Tak jauh dari terminal ada Masjid Agung Pangandaran. Di seberang masjid ini, becak berbelok ke kanan. Terpampang gapura menuju kawasan pantai.

Uwwaahhhh....... padahal sebenarnya aku sudah dekat. Ya sudahlah. Hitung-hitung beramal kepada pak becak ini. Setelah melalui gerbang tadi, berikutnya berupa jalan kembar yang cukup panjang. Pak becak berbasa-basi, bertanya darimana dan mau apa. Aku menjawab sekadarnya. Tak perlu kupaparkan kalau aku akan tes di Susi Air.

"Mau liburan aja. Abis dari Bandung, mau ke Pangandaran....." tukasku pada pak becak.

"Ohh.... begitu. Si asep darimana...??" tanya pak becak.

"Saya dari Surabaya. Baru pertama ke Pangandaran."

Sebenarnya banyak sekali literatur di internet yang pernah kubaca. Bahwa jangan pernah berkata "baru datang pertama kali" kepada seseorang yang belum dikenal, di sebuah tempat yang memang baru pertama kita datangi. Tapi namanya saja mulut. Kadang kurang bisa dikontrol. Bila sudah asyik mengobrol, semua mengalir begitu saja.

Berkali-kali disapa "asep" oleh pak becak, aku belum paham. Baru setelah pulang dari Bandung dan Pangandaran aku tahu. Ungkapan "asep" dalam bahasa Sunda berarti laki-laki. Lelaki yang rupawan. Hahahaaa..... bukannya sok kepedean yaa....??!! Barangkali itu memang lumrah diucapkan oleh masyarakat Sunda.

Setelah melewati jalan utama, pak becak berbelok ke kiri. Dari sini aku mulai menemukan papan-papan bertuliskan wisma, hotel, atau penginapan. Tetapi.... pak becak terus mengayuh. Aku mulai curiga. Aku masih bertahan. Menunggu, hendak dibawa kemana aku. Tak lama, pak becak berbelok ke sebuah gang. Aku semakin curiga. Beliau kemudian berkata.

"Asep saya carikan penginapan yang murah, yaa....?? Kalau hotel pasti mahal."

Belum sempat aku menimpali, becak berhenti di depan sebuah bangunan. Dari depan memang terlihat seperti pondok penginapan. Tapi kok di tengah rumah penduduk begini, yaa...?! Terlihat sejumlah pintu, yang menandakan kamar-kamar yang disewakan. Lebih mirip tempat kost, batinku!

Pak becak memintaku menunggu sebentar. Ia lantas masuk kedalam. Tak berapa lama dia keluar. Mengatakan ada kamar kosong untukku. Ahh.... coba kulihat, bagaimana kamar yang ditawarkan ini.

Seorang ibu paruh baya yang ternyata adalah pemilik pondok, mengajakku untuk naik ke lantai dua. Dia membukakan pintu, di sebuah kamar ber-AC. Lumayan, sih. Namun begitu aku mendengar harganya, serasa mau pingsan!!! Harga permalamnya lebih mahal daripada harga hotel tempatku menginap di Bandung kemarin....??!!!

Pangandaran

Salah satu gazebo di pinggiran pantai Pangandaran. (foto dok. pribadi)

Kutolak mentah-mentah kamar itu. Apakah ada kamar yang lain? Tanyaku selanjutnya. Si ibu membukakan kamar yang lain. Sebuah kamar di pojokan.

"Ini ada, tapi di pojokan. Cuma pake kipas angin. Di Pangandaran kalau gak pake pendingin bisa kepanasan..." seru si ibu.

Tentu saja. Namanya pantai sudah pasti panas. Pekikku dalam hati. Kulihat kamar ini. Ada dispenser dan galon air yang masih penuh. Juga kamar mandi yang cukup bersih. Sepertinya kamar ini jarang disewa. Sekilas kulirik arloji. Hampir jam sembilan malam. Jika aku mencari hotel kembali, maka waktuku untuk istirahat semakin berkurang.

"Saya ambil yang ini aja..."

Dengan berusaha ikhlas aku memilih kamar berkipas angin. Tak masalah. Toh, kamarku di Surabaya juga tanpa AC. Aku membayar dua malam kepada si ibu. Jadi hasilnya, ongkos satu malam di kamar ber-AC, bisa digunakan untuk ongkos dua malam di kamar berkipas angin. Penghematan harus dilakukan.

Ya. Malam ini dan malam Minggu besok, akan kuhabiskan di Pangandaran. Karena aku tak tahu. Besok Sabtu aku akan menjalani tes sampai jam berapa. Jadi untuk amannya, aku sudah menyewa kamar yang bisa kutiduri hingga hari Minggu pagi.

Urusan dengan ibu pemilik pondok selesai. Dari tadi pak becak mengikuti tawar-menawarku dengan si ibu. Kini giliran untuk membayar pak becak. Kutanya berapa ongkosnya.

"Lima puluh ribu, sep...?!"

Appaaaa....??!!!! Lima puluh ribuuuuuu????!!!!!!!!!!

Aku sungguh terhenyak dengan nominal yang dia sebutkan. Di informasi yang kucetak dari internet, rata-rata ongkos becak hanya 20 ribu. Ongkos sekali jalan hingga mendapatkan penginapan, bagi wisatawan yang baru datang. Kenapa dia menarik ongkos lebih dari 2 kali lipat??!!!

"Lhoo,,, biasanya 20 ribu, pak..???" aku mencoba menawar disaat-saat terakhir.

"Waahh.... gak dapat, sep?!!" jawabnya.

Ya sudahlah. Energiku sudah hampir habis. Capek. Kusodorkan selembar 50 ribu kepadanya. Akupun berlalu tanpa sudi menatapnya lagi. Sambil masuk kamar dan mengunci pintu, aku menggerutu sendiri. Harusnya aku menyepakati harga becak diawal. Bukannya setelah buyar baru kutanyakan harga ongkosnya.

Kutenangkan diri dengan meneguk air dari dispenser. Ternyata ada teve di dalam kamar. Aku baru sadar. Kutekan tombol power. Begitu menyala, pas yang terpampang adalah siaran live, dimana pemerintah resmi mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak alias BBM.

Lengkap, sudah......

Berita ini semakin membuatku pusing tak karuan. Bensin dari 4.500 menjadi 6.500 perliter. Sedangkan solar dari 4.500 menjadi 5.500 perliter. Aku yakin. Sebentar lagi harga barang-barang akan merangkak naik. Efek domino, bahasa kerennya.

Tiba-tiba aku jadi teringat dengan pak becak beberapa saat yang lalu. Seorang bapak gendut, namun sudah cukup tua. Kutahu dari hembusan nafasnya ketika mengayuh becak. Nafasnya patah-patah, cukup dalam. Menimbulkan iba bagi yang mendengarnya. Kemudian aku berpikir. Jangan-jangan ongkos yang dia tarik tadi, karena mengikuti harga BBM yang dipastikan naik mulai malam ini?

Hadduuhhhhh........ dampak kenaikan harga BBM sudah begitu terasa. Bahkan sebelum diumumkan secara resmi. Baiklah. Kuikhlaskan benar-benar ongkos becak tadi. Barangkali beliau harus menghidupi sejumlah anak, atau bahkan cucu. Apalagi jika mengayuh becak merupakan satu-satunya mata pencaharian baginya.

Hhmmm.... kutarik kembali segala gerutuku. Aku tak elok menggunjing orang kecil macam pak becak tadi. Setidaknya berkat jasanya, aku bisa tidur nyaman malam ini. Toh, kamar yang sedang kutempati ini juga tak buruk.

Sabtu, 22 Juni 2013.

Aku menjalani tes di Susi Air. Sekaligus hari pertama berlakunya harga BBM yang baru.

Minggu, 23 Juni 2013.

Ini adalah sunrise kedua di Pangandaran. Namun kebersamaan selama dua hari ini, harus berakhir. Aku berencana kembali ke Bandung pagi ini. Mengingat pengalaman pertamaku Jumat lalu. Aku harus stand by di terminal sepagi mungkin. Karena menurut informasi dari penduduk setempat, bus trayek Pangandaran-Bandung tak begitu banyak.

Pagi-pagi sekali aku sudah mandi. Membereskan barang dan bersiap meninggalkan pondok penginapan. Sebelum pulang, aku ingin menikmati pantai Pangandaran. Aku sungguh beruntung. Jarak penginapanku dengan pantai tak begitu jauh. Tak sampai lima menit, aku sudah sampai di area pantai.

Pantai telah begitu ramai. Tak heran. Ini hari Minggu. Pangandaran adalah pantai yang cukup indah. Aku memang selalu terpukau dengan segala yang berbau pantai. Ombaknya. Anginnya yang semilir. Langitnya. Semuanya. Tak bisa kubayangkan. Pantai seelok ini pernah dijejali tsunami pada Juli 2006 lalu.

Ya, tsunami...

Ketika aku bepergian seorang diri, seolah aku menemukan diriku yang SERATUS PERSEN. Diriku yang lepas. Tanpa terikat apapun. Seolah burung yang bebas melayang, kesana kemari. Dan aku akan selalu excited, tatkala berkunjung ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi.

Seperti hari ini. Aku berkesempatan datang ke pantai Pangandaran. Sebuah pantai di selatan Jawa Barat. Barangkali aku memang orang yang suka bertualang. Aku sering jengah sendiri, bila harus berlama-lama di dalam ruangan. Berada dibalik meja, seharian. Membosankan.

Bandung Pangandaran

Sebelum pulang, mengabadikan diri di depan Gedung Sate. (foto dok. pribadi)

Diantara hiruk-pikuknya orang-orang di pantai, kembali aku merenung. Ya, hidup memang pilihan. Kumantapkan segenap jiwa untuk berhenti dari perusahaanku sebelumnya. Kembali mencari peruntungan di tempat lain. Aku yakin, Tuhan menebar rezeki di segala tempat. Karenanya, kembali aku berikhtiar untuk mendapatkan pekerjaan. Tak ada yang salah ‘kan dengan ikhtiar?

Aku pernah menyimak talkshow Hitam Putih di salah satu stasiun teve. Dibawakan secara khas oleh Deddy Corbuzier. Di akhir acara, pesulap botak ini selalu memberikan kesimpulan. Kali ini kesimpulannya terdengar apik di telingaku.

Bahwa tidak ada pilihan yang benar. Tidak ada pilihan yang salah. Juga, tidak ada pilihan yang tepat. Yang ada hanyalah pilihan yang dijalani. Pilihan yang kita jalani. Pilihan yang dikerjakan sebaik mungkin. Pilihan yang dilakukan dengan segala kesadaran. Pilihan yang harus dipertanggungjawabkan.

Aku telah mantap. Aku tak perlu tenggelam dalam jurang putus asa. Aku yakin dengan sikap yang kuambil. Tak perlu menyesal dengan segala pilihan yang telah dilakukan. Semua pasti mengandung risiko. Yang jelas, aku tak akan berhenti berikhtiar.

Semangggaaaaatttt............!!!!!!!!!!!!

It`s time to go home. Aku bergerak meninggalkan pantai Pangandaran. Seraya berharap, semoga aku bisa mengunjunginya di lain waktu. Amin.

Artikel ini dibuat oleh Johar Dwiaji Putra, seorang Blogger yang mempunyai Rumah Online di www.kompasiana.com/new4best dengan ada perubahan pada judul dari judul asal Best Story In This Midyear: BBM Naik dan Pangandaran!



#




Banner Header

Berikan Komentar Via Facebook

Cerita di Pangandaran Lainnya
Romantisme Api Unggun di Pangandaran yang Tak Terungkap
Romantisme Api Unggun di Pangandaran yang Tak Terungkap
Senin, 05 Juli 2010 06:13 WIB
Masih melanjutkan cerita tentang jalan-jalan ke Green Canyon dan Pangandaran, kali ini aku akan bercerita tentang kegiatan kami di Pantai Pangandaran ketika malam hari. Memang, berdasarkan jadwal acara Sabtu malam itu akan diisi dengan makan bersama di pinggir pantai Pangandaran, ditemani api unggun. Dengan catatan, tidak hujan!
Pangandaran, Pesona Keindahan Selatan Jawa Barat
Pangandaran, Pesona Keindahan Selatan Jawa Barat
Minggu, 21 Agustus 2011 21:01 WIB
KAWASAN ini begitu cepat pulih! begitulah gumam dalam hati ketika menginjakkan kaki untuk pertama di kawasan wisata Pangandaran (Jawa Barat) akhir minggu ketika di bulai Mei lalu. Geliat perekonomian dan kehidupan sosial yang didukung sektor pariwisata telah benar-benar membangkitkan Pangandaran.
Tugu Welcome to Pangandaran, Kenapa Jadi Warna Emas?
Tugu Welcome to Pangandaran, Kenapa Jadi Warna Emas?
Jum'at, 02 Desember 2011 17:26 WIB
Kuciwa, begitu kata terlontar dari big bosku dulu untuk mengomentari sebuah hasil design terburuk yang pernah dilihat. Tiada lain alias tiada bukan, Kuciwa adalah kata plesetan dari kata KEKECEWAAN yang teramat sangat.